BACK TO TOP

Startup Butuh Mentor, Bukan Investor

By :
Ilana Aninditya

Baru-baru ini tim Ziliun dapet kesempatan ngobrol dengan Henky Prihatna. Praktisi industri teknologi dan digital yang sedari SD udah punya mental bisnis ini, sudah sangat berpengalaman dalam soal jatuh bangun berkali-kali membangun bisnis, mulai dari yang sampingan sampai yang utama, mulai dari yang serius sampe yang serius banget. Ia juga adalah pendiri Baba Studio, konsultan Teknologi Informasi yang didirikan sejak industri IT belum se-booming sekarang.

Dari hasil ngobrol dengan beliau, ada beberapa poin yang menurut kami menarik banget untuk dipelajari, terutama buat para founder dan calon founder yang kebelet benjet pengen ngebangun bisnis yang take off dalam waktu kurang dari satu cawu.

Obrolannya sih simpel, berawal dari satu diskusi soal, hal penting apa sih yang dibutuhkan startup ketika mereka mulai?

<Z = Zainuddin Ziliun; H = Hayati Henky>

Z: Sebenernya, apa faktor penting dalam membangun startup, tentunya selain membentuk tim yang solid?

H: Sudah bikin pun sebetulnya sudah bagus, artinya sudah mulai belajar. Tapi lebih bagus lagi ketika memulai itu punya mentor. Yang dimaksud mentor itu apa? Yaitu orang yang pernah ngejalanin dan bisa sharing ke kita, gimana sih jalanin bisnis itu, apa sih susahnya, gimana sih baiknya. Enaknya kalau punya mentor, kita bisa lebih cepet belajar karena bisa ambil pelajaran dari pengalaman orang lain, daripada jalanin sendiri terus salah.

Z: Berarti apakah kita harus cari mentor yang bisnisnya sama dengan yang kita jalani sekarang atau gimana?

H: Nggak harus sama persis sih. Karena kan semua bisnis pada prinsipnya sama. Tapi kalau misalnya kita bikin digital startup, ya akan punya nilai tambah yang lebih ketika mentor kita juga punya pengalaman bikin digital startup. Kenapa? Karena mereka sudah mengerti beberapa hal, seperti bagaimana cara promosi di online. Atau bagaimana cara meningkatkan efisiensi dari online. Tapi pada dasarnya semua bisnis ya serupa.

Z: Lalu, kualitas mentor seperti apa sih yang harus kita cari?

H: Yang bagus itu mentor yang sering melakukan, sering gagal, tapi bisa bangkit lagi. Jadi orang tersebut bisa cerita, bagaimana perjalanannya, sukses dan gagalnya. Karena pengalaman gagal itu berharga sekali.

Henky Prihatna di panggung DevFest Indonesia tahun lalu

Z: Oke, berarti gunanya mentor itu supaya kita bisa belajar kesalahan-kesalahan dia biar kita ngga ngulangin lagi. Nah, gimana dengan investment uang? Apakah itu salah satu hal yang penting juga untuk membangun startup?

H: Kalau pengalaman saya ya, di awal lebih baik kita bootstrap. Jadi kita pake uang sendiri dulu, ngirit dulu, dan bener-bener menerapkan lean startup. Ini penting karena membangun bisnis itu ngga boleh awalnya langsung  mikirin uang, justru nanti malah kaget pas produk belum jadi, tiba-tiba sudah dapet uang. Harusnya tunjukin dulu bahwa konsepnya bener, tim nya solid, dan produknya bisa di-launch apa nggak.

Z: Apa sih yang terjadi kalau misalnya belum apa-apa udah dikasih duit? Bakal ada problem apa yang muncul?

H: Tergantung sih, karena banyak anak-anak muda sekarang yang bangun startup, ketika dikasih uang mereka langsung seneng. Tiba-tiba, wow, dapet uang banyak. Tapi kemudian nggak bisa mengatur dan memanfaatkan uang dengan baik. Akhirnya, uang yang ada nggak dimanfaatkan secara maksimal, dan misi awal mereka bangun startup juga akan ilang gitu aja. Mikirnya, “Oh, sudah dapet uang banyak nih, berarti sudah aman”. Malah kemudian nggak ada semangat untuk mengejar tujuan awal mendirikan bisnis.

Z: Balik lagi ke soal mentor, gimana caranya kita menentukan seorang mentor itu cocok atau tidak dengan kita, dan terlebih lagi, cocok atau ngga untuk ngajarin bisnis ke kita?

H: Gini, mentor itu nggak harus satu. Every mentor has different experiences, has different knowledge, has different tips and tricks, has different mistakes, that they can share with us. Kalau bisa ambil dari banyak pihak, kenapa ngga?

Z: Berarti kita mesti cari dari banyak orang, dan ambil keahlian mereka yang terbaik?

H: Ya bener begitu. Tapi jangan sampai kebanyakan nanya, kebanyakan dengerin, tapi kemudian ga jalanin. Contoh, banyak juga yang minta nasihat sama saya, misalnya ketika saya jadi pembicara di seminar, ada orang yang datang ke saya lalu bilang, “Pak Henky minta rahasianya dong!”. Dua tahun kemudian saya ketemu orang yang sama, “Pak Henky ada nasihat lagi ga?” Tapi dia ga ngejalanin apa-apa. Ya ngga akan jadi apa-apa.

Coba dicatet tuh! Yang penting itu ngelakuin dulu. Sambil jalan, sambil belajar. Sambil belajar, sekalian cari yang bisa ngajarin, biar belajarnya lebih cepet, dan lulusnya lebih lancar.

Tapi semua itu ngga akan kejadian kalau ngga pernah ngelakuin dulu. Lebih-lebih kalau belum-belum udah berharap dapat duit.


Udah ketemu mentor yang cocok belum?
Punya banyak mentor!
16.7% (2 votes)
Ada mentor, tapi nggak klik banget
0% (0 votes)
Belum, masih nyari
66.7% (8 votes)
Ada satu orang yang the best!
16.7% (2 votes)